Perhatian

Dianjurkan kepada para pembaca sekalian untuk membuka blog ini dengan Mozilla Firefox, karena layout blog sering mengalami gangguan apabila dibuka dengan Internet Explorer.
Kepada para pembaca yang memiliki keterbatasan bandwidth dan masih ingin membaca blog ini, silahkan click DI SINI. Terima kasih.

Tuesday, March 11, 2008

PINDAH RUMAH

Terima kasih blogger sudah menampung artikel-artikel saya sejak Mei 2007, kini saatnya saya harus mengucapkan salam perpisahan. Mulai hari ini saya pindah ke:

http://www.sherwintobing.com

Jangan khawatir apabila setelah menemukan blog itu anda menemukan bahwa penulisnya tidak bernama Yuki Tobing, karena itu hanya nama samaran saya belaka. Penulis blog itu adalah orang yang sama dengan penulis blog ini. Silahkan mengupdate blogroll anda dan beritahu saya di sana jika sudah melakukannya sehingga saya bisa membalas budi anda. Dengan ini saya nyatakan, http://www.goresanngawur.blogspot.com TELAH MATI.

Read More......

Sunday, March 02, 2008

Jangan Terobsesi dengan Statistik

Saya tidak bermaksud untuk menjelaskan jenis-jenis narkoba dan definisinya melalui artikel ini. Jika itu yang anda cari, anda berada di tempat yang salah, saya kurang tahu banyak mengenai masalah tersebut. Saya jadi tertarik untuk menulis artikel ini setelah membaca statistik tindak pidana yang berkaitan dengan narkoba di Indonesia di website Badan Narkotika Nasional (BNN). Statistik yang saya maksud itu sendiri bisa ditemukan di sini. Anda tidak perlu mendownloadnya jika memiliki masalah dengan bandwidth anda, karena toh saya sendiri akan menjabarkan data-datanya di artikel ini.

Membaca data yang disajikan dalam bentuk statistik memang gampang-gampang susah. Orang yang berbeda bisa saja akan mengambil kesimpulan yang berbeda atau bahkan bertolak belakang sama sekali. Statistik yang terakhir kali diupdate pada akhir tahun 2007 ini menunjukkan bahwa adanya kecenderungan peningkatan kasus tindak pidana yang berkaitan dengan narkoba. Berikut ini adalah statistik yang dimaksud:
  • Tahun 2001: 3.617 kasus
  • Tahun 2002: 3.751 kasus ; terjadi peningkatan sebesar 3,7%
  • Tahun 2003: 7.140 kasus ; terjadi peningkatan sebesar 90,3%
  • Tahun 2004: 8.409 kasus ; terjadi peningkatan sebesar 17,8%
  • Tahun 2005: 16.252 kasus ; terjadi peningkatan sebesar 93,3%
  • Tahun 2006: 17.355 kasus ; terjadi peningkatan sebesar 6,8%
  • Tahun 2007: 20.726 kasus ; terjadi peningkatan sebesar 19,4%
Mari kita tilik lebih lanjut!!

Hal yang paling terlihat adalah adanya kenaikan tindak pidana yang berkaitan dengan narkoba setiap tahunnya di Indonesia, bahkan pada tahun-tahun tertentu tercatat peningkatan yang cukup signifikan.

Berbekal kesimpulan di atas, saya mencoba memprediksi dua kemungkinan reaksi anda.
1. "Waah, polisi kita udah hebat sekarang, keren abis, udah pada jago ngendus mangsa"
Tentu wajar bila anda berpikir bahwa aparat kepolisian kita semakin tangkas dalam menangkap para pemakai maupun pengedar narkoba, apalagi saat melihat besarnya persentase kenaikan pelaku tindak pidana yang tertangkap. Apa reaksi ini tepat? Ada baiknya kita membaca terlebih dahulu prediksi saya akan kemungkinan reaksi kedua.

2. "Anjing, makin banyak aja pengguna narkoba di Indonesia"
Saya sendiri tergabung dalam kelompok ini, dan jelas merasa sedih melihat semakin banyaknya pengguna narkoba di Indonesia. Yang lebih menyedihkan lagi bagi saya adalah saat melihat kelompok satu begitu terbuai dengan angka-angka "indah" yang disajikan statistik tersebut dan mengatakan dengan lugunya bahwa "Indonesia sudah semakin membaik, para pelaku sudah semakin banyak ditangkap". Orang-orang yang menunjukkan reaksi pertama di atas itu jelas memiliki salah pengertian akan masalah ini, mereka begitu terobsesi pada statistik itu dan mengharapkannya untuk terus meningkat demi memuaskan perasaan aman mereka.

Bukankah seharusnya kita merasa senang apabila angka-angka statistik di atas mengecil yang tentunya disebabkan oleh tingginya kesadaran masyarakat untuk tidak merusak diri? (NB: bukan karena aparat kepolisian makin bego looh)

Angka-angka "indah" di atas jelas menunjukkan bahwa pihak-pihak yang seharusnya sejak dini mengajarkan akan bahaya pemakaian narkoba belum memberikan kontribusi yang cukup berarti.

Bagaimana cara menurunkan angka-angka itu? Anda tentu tahu jawabannya bukan?

Read More......

Monday, February 25, 2008

Indonesian Film Festival 2008 in Budapest

The embassy of Republic Indonesia in Hungary and Hungarian Ministry of Education and Culture have successfully organized Indonesian film festival in Urania National Film Theater. The objective of this event is to introduce Indonesian culture (films) to Hungarian audiences which will ultimately strengthen the relationship between them. More importantly, Indonesian FIlm Festival 2008 is expected to support 'Visit Indonesia 2008' program.

The event itself lasts from February 21 until 27 and contains seven national films which had won several national and international awards. Urania National Film Theater shows one film per day and charges 890 Forint (approximately 45.000 Rupiah) per person.

Let's continue reading this post!!

February 21
Indonesian film festival was begun after our Ambassador gave a short speech about the event and its aims. First film shown was Cinta dalam Sepotong Roti (1991), starring young Tio Pakusadewo, Adjie Massaid and Rizky Erzet Teo. The film was about the second honeymoon of two young couple. They are accompanied by their childhood friend who actually loves his friend's wife. He and the lady have something in common, that is Srikaya jam. This second honeymoon was filled with internal conflict of the couple, and what began as a minor skirmish turned into a 'full-scale riot'.

February 22
Second film shown was Pejuang (1961), starring Bambang Hermanto, prominent actor of the time (according to my father). The movie itself was not a colour ones. In 1947, a pleeton led by Amir had to defend one strategic bridge while protecting the refugees. One of the refugees was one educated young lady named Irma, with whom Amir fell in love.
Amir had two best friends, Imron, who also fell in love with Irma, and Seno, who dated Amir's sister. Amir and his sister were finally captured by Dutch and the rest of them evacuated. Seno and Imron were involved in the conflict of interest, because Seno wanted to rescue his friend and his beloved girlfriend while Imron saw that he could use the absence of Amir to approach Irma.
One important message delivered in the end of this film was JANGAN BERHENTI BERJUANG, BANYAK YANG SUDAH JADI KORBAN.

February 23
Third film shown was Pagar Kawat Berduri (1961), another black and white film.
Some Indonesian soldiers were captured in Dutch war camp. One of them, Parman, approached Ducth officer, Koenen, by pretending to be a teacher. Parman tried to help two important soldiers, Herman and Toto, to escape from the camp. We evidenced the sacrifice of Indonesian soldiers of the time, they preferred their own country to their family and fought Dutch bravely although they admitted that their weapons were dwarfed by Dutch's. One of them even had to sacrifice his life to avoid the guards from shooting Herman and Toto.

February 24
Fourth film shown was Ibunda (1986), starring Tuti Malaon, Ria Irawan, Onny Mayor and innocent young Ayu Azhari. The film centered on the mother's position in facing her sons' and daughters' problems. Fitri and her boyfriend, Luke, are ostracized by Ida, eldest sister, and her rich Javanese businessman. The reason behind this is Luke is not Javanese but Irian. Fikri, the second son, abandons his wife and son to be an actor, which lead him to an affair with the producer.

February 25
I just came back home after watching Heart (2005). Perhaps, some of you have watched this film, it is over-sentimentalized film about one boy who falls in love with comic writer who suffers from heart (the real heart I meant) disease. His childhood friend just can support him although she actually loves him but has always been too shy to say.

Urania National Film Theater will show 9 Naga (2006) tomorrow and Nagabonar Jadi 2 (2007), one of my favourite, in the last day. I was surprised to know that there are actually lot of Hungarians who are eager to know about Indonesian film. In order to attract more visitors, I distributed some brochures and posted some posters about this festival in my university. Some of my friend are planning to come and watch Nagabonar Jadi 2.

I still can not believe that I watched Indonesian films NOT IN INDONESIA. Okay, you can watch Indonesian film in youtube whereever you are. I watched Indonesian films in HUNGARIAN NATIONAL THEATER. Okay, now it is amazing. I was among those who smiled and clapped after the film ended. I do hope that after this fantastic occasion, there will be more and more people who have brief picture of Indonesia and feel that they have to visit Indonesia.

Read More......

Thursday, February 14, 2008

Kisah Kasih di Hari Valentine

Hari ini, 14 Februari adalah hari yang didedikasikan bagi dua orang suci kaum Katholik Valentine of Rome dan Valentine of Termi. Sejak saat itu, tanggal 14 Feburari disebut Valentine's Day, dan dijadikan hari untuk mengekspresikan kasih sayang kepada orang yang kita sayangi, entah dengan memberikan waktu seharian penuh, sampai hadiah-hadiah kecil seperti bunga, coklat, maupun kartu Valentine.

Seharian ini, saya mengamati banyak sekali bentuk ungkapan cinta di sekitar saya yang saya kira cukup menarik untuk dibagikan, mulai dari yang dilakoni oleh pasangan bergaya emo sampai pasangan gay. Mari kita tilik lebih lanjut!!

Cerita bermula saat seusai kuliah saya bermaksud untuk pergi ke pusat perbelanjaan WestEnd dengan tram dari depan sekolah saya. Susunan bangku di dalam tram yang agak sempit memungkinkan sepasang lelaki duduk berhadapan dengan mesranya, sambil saling menggengam tangan. Mencoba berpikir positif, saya menerka bahwa mereka adalah bapak dan anak lelakinya. Kenyataan berkata lain, mereka adalah sepasang kekasih yang sedang mengucapkan janji-janji indah mereka.

Tram pun berhenti di stasiunnya, saya melihat beberapa pasang muda-mudi bergandeng tangan dengan mesra, tangan sang wanita pun menggengam setangkai bunga mawar merah. Toko bunga di stasiun yang biasanya sepi dari pengunjung pun dipenuhi lautan pria yang hendak membeli bunga untuk kekasihnya.

Setibanya di mall tersebut, saya melewati seorang wanita yang sedang menuntut sang pacar membelikannya sebuah kaos sebagai hadiah Valentine dan sang lelaki pun seperti kerbau dicocok hidungnya, manut saja. Di dalam mall, saya melihat lebih banyak lagi wanita muda yang membawa setangkai atau bahkan sebucket bunga mawar merah. Ralat, saya juga melihat beberapa wanita lanjut usia yang membawa bunga mawar, dan tangan keriput mereka dengan mesra terus menggengam tangan sang pasangan hidup. Cinta memang tidak mengenal usia.

Saya lantas duduk di foodcourt, dan sembari menikmati french fries dan chicken wings, sepasang muda-mudi datang dan duduk di sebelah saya. Si wanita membawa setangkai bunga dan memasang raut muka cemberut, sementara si pria langsung pergi memesan makanan. Selesai makan, si pria langsung mengungkapkan cintanya, dan dalam sekejap ekspresi penuh kebahagiaan terpancar dari wajah dari si wanita. Tak lupa si pria memuja betapa cantiknya pasangannya malam itu, yang dibalas dengan ucapan terima kasih dengan malu-malu.

Masih sembari makan, saya melihat di counter sebuah restoran fastfood ternama, sepasang remaja beratribut emo sedang memesan makanan, dan si lelaki pun berkali-kali mencium gemas pipi wanitanya. Di seberang saya pun duduk sepasang kekasih yang duduk di bangku yang sama sambil menikmati makanan mereka seakan-akan tidak ada bangku kosong lagi di sana. Di belakang saya, berdiri seorang wanita yang membawa koper, sepertinya dia baru datang dari luar kota. Tak beberapa lama kemudian, kekasihnya pun datang dan jadilah mereka menikmati dinner Valentine mereka.

Setelahnya, saya pun pergi ke stasiun kereta internasional demi membeli sebuah tiket ke Vienna, dan di sebelah saya berdiri segerombolan anak muda yang sepertinya hendak pergi travelling. Seorang pemudi diantar oleh ibunya langsung menghambur dan memeluk salah seorang pemuda di sana. Si pemuda pun tidak menghiraukan ibu kekasihnya yang mencoba mengajaknya ngobrol dan hanya menatapnya jahat (seperti ) seakan mengatakan "I've got your daughter and I'll eat her". Di depan saya pun berdiri pria berbadan besar dan berkepala botak yang mondar-mandir dengan tidak sabarnya sembari terus menatap jadwal kedatangan kereta. Tangannya pun menggengam sebucket bunga mawar merah.

Ternyata, pengunjung toko-toko tidak hanya didominasi oleh para pria. Di perjalanan pulang, saya melihat banyak ibu-ibu yang sedang menawar dasi-dasi di warung pinggir jalan untuk hadiah Valentine suaminya.

Berhubung pasangan saya tidak berada di Budapest, beginilah jadinya hari Valentine tahun ini, menatap semua orang berbagi kasih. Saya pikir semua ini sudah cukup, ternyata oh ternyata, di perjalanan pulang, saat saya mampir di sebuah supermarket, saya melihat sepasang kekasih sedang berciuman dengan ganasnya. Sang wanita tampak berusaha keras agar bunganya tidak terjatuh. Selesai berbelanja, mereka masih di sana saudara-saudara!!! MASIH BERCIUMAN!!!

Salah satu lagu dari album lama Incubus seakan berdengung di telinga saya, "I wish you were here".

Bagaimana pengalaman Valentine saudara sekalian?

Read More......
Anda tidak setuju dengan saya? Silahkan melakukan pencarian dengan Google!!
Google

Template Design | Elque 2007